GERBANG TATA BANGUN JAYA

BATANG KOMPOSIT

 

Suatu batang struktural disebut komposit jika terdiri lebih dari satu jenis material yang dibentuk/disatukan menjadi batang yang bersama-sama memikul beban. Contoh struktur balok baja komposit dengan pelat lantai, akan menjadi satu kesatuan bersama-sama memikul beban jika balok baja terikat/menyatu dengan pelat beton. Agar balok baja dengan beton lantai benar-benar menyatu maka diperlukan shear connector berupa stud bolt atau angkur-angkur kecil yang dilas pada balok baja sebagai penahan geser horizontal. 


Contoh pada gambar diatas, adalah balok komposit namun saat ini yang sering kita jumpai adalah gambar (a) dan (c). Perilaku komposit hanya akan terjadi jika peristiwa slip antaa kedua material ini dapat dihindari. Maka untuk menjadi balok yang benar-benar komposit maka peran shear stud ini menjadi yang sangat penting. 

Dengan menggunakan struktur konposit balok ini, beberapa keuntuangan sebagai berikut :
1. Mereduksi berat profil baja sebab dimensi balok baja dapat dikurangi
2. Tinggi profile baja dapat dikurangi
3. Menambah kekakuan lantai juga
4. Dapat menambah panjang bentang layan

Kekakuan pelat lantai komposit pada dasarnya daripada kekakuan pelat beton dan balok baja yang tidak di komposit. Meningkatnya kekakuain ini juga akan mengurangi lendutan balok baja.

PENGETAHUAN DASAR PONDASI

Fondasi adalah suatu bagian dari konstruksi bangunan yang bertugas meletakkan bangunan dan meneruskan beban bangunan atas (upper structure) kedasar tanah yang cukup kuat mendukungnya. Untuk tujuan itu fondasi bangunan harus diperhitungkan dapat menjamin kestabilan bangunan terhadap berat sendiri, beban-beban bangunan dan gaya-gaya luar seperti tekanan angin, gempa bumi dan lain sebagainya dan tidak boleh terjadi penurunan fondasi. Baik penurunan fondasi setempat/titik maupun penurunan merata. Kegagalan fondasi dapat disebabkan karena “base-shear failure” atau penurunan berlebihan, dan sebagai akibatnya dapat menimbulkan kerusakan structural pada rangka bangunan atau kersukana lain seperti retak tembok, lantai ubin pecah dan pintu jendela sulit dibuka. Maka baiknya titik pondasi harus berada pada tanah keras.
Untuk dapat menentukan lokasi pondasi dan jenis pondasi yang akan digunakan, biasanya perencana melakukan penyelidikan tanah. Penyelidikan tanah dilakukan untuk mendapatkan informasi teknis dalam perancangan bangunan. 
Adapaun informasi teknis tersebut adalah:
1. Informasi untuk menentukan jenis pondasi (dangkal atau dalam)
2. Informasi daya dukung pondasi
3. Informasi perkiraan penurunan (settlement) tanah tersebut.
4. Informasi lokasi muka air tanah
5. Informasi untuk menentukan solusi terhadap permasalahan yang akan dihadapi dilapangan
6. Informasi kemungkinan tibulnya permasalahan pada bangunan sekitar.

Pondasi bangunan biasanya dibedakan sebagai pindasi dangkal dan pondai dalam, yang dibedakan dari perbandingan kedalaman pondasi terhadap lebar pondasi. 
1. D ≤ B disebut pondasi dangkal
2. D > 5B disebut pondasi dalam
Untuk pondasi bangunan rumah tinggal dan Gedung bertingkat biasa (ordinasry low-rise buildings), karena berat bangunan relative tidak besar, maka biasanya cukup digunakan fondasi dangkal yang disebut pondasi langsung yaitu dengan memperlebar bagian bawah kolom atau dinding bangunan, sehingga beban bangunan disebarkan menjadi desakan yang lebih kecil daripada daya dukung tanah yang di izinkan. Dimensi pondasi dihitung berdasarkan beban bangunan dan daya dukung tanah yang diizinkan.

Af = Beban Bangunan / Daya dukung Tanah 
Af = luas pondasi.

Kedalaman pondasi langsung makin dangkal akan semakin murah dan semakin mudah pelaksanaannya, tetapi ada beberapa factor yang harus diperhatikan. :
1. Dasar pondasi harus terletak dibawah lapisan tanah teratas (top soil) yang mengandung humus, bahan organic.
2. Kedalaman tanah urug atau tanah lunka lain.
3. Kedalaman tanah yang dipengaruhi sifat retak-retak atau kembang susut.
4. Kedalaman muka air tanah
5. Letak kedalaman pondasi bangunan lama yang berdekatan.

Dengan mempertimbangkan factor-faktor tersebut maka kedalaman dasar pondasi langsung di Indonesia beiasanya diletakkan antara 0.6m sampai 3.0m dibawah muka tanah.
Foto diatas memperlihatkan podestal yaitu kolom beton yang terlihat diatas permukaan tanah perpanjangan dari pondasi. BIasanya bagian ini disebut kolom pedestal.

HOUNCH

Pada struktur bangunan baja sering kita jumpai jenis sambungan penambahan profile pada pertemuan kolom dengan rafter, pada pertemuan rafter-rafter pada puncak. Juga sering ditemukan pada sambungan balok ditopang kolom.
Sambungan ini masuk dalam jenis jepit, sebab dapat menahan momen. Inilah yang disebut sambungan hounch atau beberapa praktisi menyebut voute, tapi lebih dikenal "hounch" oleh praktisi struktur baja. Hounch ini umumnya dari profile yang sama dengan profile induknya dan dilas penuh lalu diberikan end plate untuk penempatan baut-baut. End plate dilas penuh dari ketinggian hounch sampai profile induk. Hounch ini dipotong miring pada web nya sehingga membentuk segitiga dan kedua nya dipakai pada ujung-ujung profile induk. Panjang hounch ini biasanya 2x tinggi profile, namun tetap perlu dilakukan desain untuk mengetahui panjang kebutuhan nya sesui distribusi momen yang terjadi. Hounch juga sangat sering dipakai untuk sambungan kantilever sebagai penahan momen.

CELAH PADA BASE PLATE

Pada sebuah konstruksi bangunan terkhusus struktur baja, struktur ditopang oleh kolom dan kolom ditopang oleh pondasi. Antara kolom dan pondasi sambungan yang digunakan adalah base plate dengan angkur yang dicor langsung dengan pedestal atau pondasi. Umum nya pada bawah base plate ada celah yang nantinya celah tersebut di isi dengan grouting. Pada RAB grouting ini biasanya disebutkan pada item pekerjaan kolom. Menjadi pertanyaan mengapa harus ada celah?. Pada pemasangan struktur baja, kita semua paham sambungan baik baut dan angkur tidak dilakukan pengencangan saat itu juga, perlu yang namanya penyetelan atau saat memasang komponen balok si kolom perlu direnggangkan sedikit. Khusus untuk angkur, perlu akhirnya dilakukan penyetelan elvasi base plate agar struktur tidak miring. Perhatikan poto diatas, pada bawah baseplate terdapat nut, nut ini akan diputar-putar kebawah ke atas sampai elevasi semua base plate sesuai dengan yang direncanakan. Agar kolom tidak goyang, nut atas baseplate juga diputar untuk menjepit agar kolom tidak goyang.
Jika semua elevasi base plate selesai, maka bagian celah tersebut akan di isi dengan grouting seperti poto dibawah ini. Diberikan kotak kotak pada celah tersebut dengan menyisahkan celah diatas untuk dapat mengisi adukan grouting.
Demikian penjelasan singkat fungsi celah bawah base plate, jika ada fungsi lain yang para praktisi pahami silahkan kita dapat diskusi pada kolom komentar.